Setiap kali mendengar atau membaca kalimat “Soekarno-Hatta”, entah mengapa fokus saya selalu tertuju ke “Hatta”. Semacam ada magnetnya. Mungkin lebih tepatnya: Misterius.
Katanya “Bapak Bangsa” dan pahlawan, tapi kok rasanya saya tidak pernah mendengar cerita apapun tentang dirinya ya? Apa yang menyebabkan Hatta berdiri di samping Soekarno? Mengapa tidak Soekarno sendirian saja yang membaca teks proklamasi?
Setidaknya ada tiga hal tentang Hatta di kepala saya. Bisa jadi, isi kepala saya sama dengan anda. Pertama, Bung Hatta adalah proklamator. Kedua, Hatta adalah Wapres RI yang pertama. Ketiga, Hatta adalah Bapak Koperasi. Itu yang saya dapatkan selama 12 tahun bersekolah. “Hatta” seolah-olah hanya sekedar kata pelengkap setelah “Soekarno”, supaya pas.
Alhamdulillah, dahaga saya terpenuhi setelah membaca dua e-book. Pertama “Hatta: Aku Datang karena Sejarah” oleh Sergius Sutanto, dan kedua “Biografi Singkat Mohammad Hatta” oleh Rohmat.
Ternyata, Hatta jauuuh lebih tinggi dari sekedar “kata pelengkap setelah ‘Soekarno'”. Hatta adalah Pemikir. Tulisannya tajam. Tulisan-tulisan itu dijadikannya “bambu runcing” sejak menjadi mahasiswa di Belanda, tulisan bahwa Belanda harus angkat kaki dari Indonesia dan membiarkan Indonesia menjadi negara merdeka. Gara-gara itulah dia dipenjara di Belanda.
Hatta adalah seorang Bapak yang ingin Anaknya sukses ketika dewasa. Ya, dia ingin Bangsa Indonesia sejahtera. Dia tahu caranya, dan dia yakin itu akan berhasil. Sayangnya (dan sungguh sangat sayang), cara tersebut diametral dengan pemikiran Soekarno, hingga suatu saat dia memilih untuk mundur dari pemerinrahan.
Hatta adalah seorang pejabat yang selalu menjaga integritasnya. Dia selalu bertanya, “Ini uang apa?” Jika dengan menerima uang tersebut dia harus memberikan privilege tertentu kepada pemberinya, maka dia tidak akan mau menerimanya. Tidak hanya dari Belanda atau Jepang, bahkan uang dari pemerintah RI pun pernah ditolaknya. Dia lebih memilih hidup sederhana (bahkan sengsara) daripada menerima “uang nggak jelas”.
Pemikir, Bapak Bangsa yang selalu memikirkan masyarakat luas, serta Pejabat yang selalu menjaga integritasnya. Saya tidak perlu berpikir dua kali untuk langsung menjadikan Hatta sebagai Teladan baru.
Dengan sedemikian banyaknya hal-hal positif yang melekat di diri Bung Hatta, saya bingung kenapa dunia pendidikan kita sedikit sekali mengeksposnya. Sama seperti Hoegeng, saya baru mengetahui kisahnya setelah membaca buku (yang harus saya beli terlebih dahulu).
Semoga di masa yang akan datang, mata pelajaran Sejarah di sekolah anak-anak kita akan diisi oleh beragam kisah keteladanan, bukan sekedar tanggal-tanggal.