Mari kita ingat-ingat lagi memori puluhan tahun lalu ketika kita berusia 6 atau 7 tahun. Apa jawaban kita ketika ada yang bertanya, “Sudah besar nanti mau jadi apa?” Kalau saya, “Dokter.” Di bayangan saya, menjadi dokter itu hebat, bisa menyembuhkan orang sakit (dan punya banyak uang).
Sementara teman saya lain ada yang ingin jadi tentara. Katanya, “Tentara itu bisa mengusir musuh dan membuat negara kita aman.” Saya juga ingat Ikhsan, teman SD yang ingin jadi pilot karena ingin mengajak keluarganya terbang keliling dunia.
Bagaimana dengan anda? Pasti punya cita-cita juga. Itulah visi, cita-cita. Anda bisa menemukan banyak definisi mengenai visi. Namun untuk ringkasnya, visi adalah cita-cita.
Organisasi yang baik tentu memiliki cita-cita, nanti ingin jadi apa. Kalau tidak, ya ngapain repot bikin organisasi? Bahkan geng motor pun saya yakin punya cita-cita, minimal “ingin jadi geng motor yang disegani di wilayahnya, yang kalau dengar namanya saja orang-orang akan menganggapnya keren.”
Sebaik-baiknya visi adalah keinginan untuk menjadi orang atau organisasi yang bermanfaat, yang jika orang atau organisasi tersebut tidak ada maka akan terasa ada yang hilang, sehingga akan dicari oleh para stakeholders-nya.
Well, saya berharap sekarang anda sudah lebih mudah dalam menuliskan visi, “Menjadi…” 😀