Visi

Mari kita ingat-ingat lagi memori puluhan tahun lalu ketika kita berusia 6 atau 7 tahun. Apa jawaban kita ketika ada yang bertanya, “Sudah besar nanti mau jadi apa?” Kalau saya, “Dokter.” Di bayangan saya, menjadi dokter itu hebat, bisa menyembuhkan orang sakit (dan punya banyak uang).

Sementara teman saya lain ada yang ingin jadi tentara. Katanya, “Tentara itu bisa mengusir musuh dan membuat negara kita aman.” Saya juga ingat Ikhsan, teman SD yang ingin jadi pilot karena ingin mengajak keluarganya terbang keliling dunia.

Bagaimana dengan anda? Pasti punya cita-cita juga. Itulah visi, cita-cita. Anda bisa menemukan banyak definisi mengenai visi. Namun untuk ringkasnya, visi adalah cita-cita.

Organisasi yang baik tentu memiliki cita-cita, nanti ingin jadi apa. Kalau tidak, ya ngapain repot bikin organisasi? Bahkan geng motor pun saya yakin punya cita-cita, minimal “ingin jadi geng motor yang disegani di wilayahnya, yang kalau dengar namanya saja orang-orang akan menganggapnya keren.”

Sebaik-baiknya visi adalah keinginan untuk menjadi orang atau organisasi yang bermanfaat, yang jika orang atau organisasi tersebut tidak ada maka akan terasa ada yang hilang, sehingga akan dicari oleh para stakeholders-nya.

Well, saya berharap sekarang anda sudah lebih mudah dalam menuliskan visi, “Menjadi…” 😀

Maksud Daripada # (Bagian Pertama)

Tahun 2011, saya bingung ketika melihat beberapa orang mulai menyelipkan tanda # atau hashtag di awal kata. Misalnya: #kisah #sedih #di #hari #minggu. Kenapa juga harus ditulis begitu?

Selidik punya selidik, rupanya tanda tersebut populer digunakan di Twitter. Sayapun bikin akun Twitter. Namun, ternyata itu tidak banyak membantu. Yang saya lihat di sana hanyalah kalimat-kalimat nggak jelas, terlebih karena pada saat itu setiap cuitan dibatasi hanya 200-an huruf. Ya sudah, tidak sampai satu bulan kemudian, saya meninggalkan Twitter.

Satu tahun berselang, ketika mendapat Love pertama di Instagram, saya mulai mengerti maksud daripada hashtag. Di Instagram, tanda tersebut ternyata digunakan untuk “memasukkan” suatu foto ke kategori tertentu, mirip seperti keyword di skripsi. Jadi, ketika saya search “#sunset” maka akan tampil foto-foto sunset. Wow… dari situ semangat fotografi saya muncul kembali. Saya banyak belajar dari foto-foto yang ada di Instagram dengan mengetikkan hashtag tertentu.

Selanjutnya, setiap kali posting foto di Instagram, saya selalu menuliskan hashtag di judul foto. Harapannya supaya foto saya bisa dilihat orang lain ketika mereka mencari hashtag tersebut. Hashtag-nya bisa satu atau lebih dari satu, seperti “#buildings #jakarta #cityscape” yang berarti foto gedung di Jakarta. Urutan penulisan hashtag tidak harus memerhatikan tata bahasa atau grammar.

Beberapa hari kemudian, saya mulai mendapat love dan follower dari orang yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya. Orang yang saling terhubung karena memiliki selera fotografi yang sama. Saya jadi mengerti maksud daripada follower.

Seiring perjalanan saya sebagai Warga Instagram, rupanya suatu hashtag juga digunakan untuk “memasukkan” foto kita ke “klub” fotografi tertentu, seperti #instanusantara, #indoflyer, #kamerahpgw, dll. Tujuannya agar foto kita bisa dilihat oleh anggota klub tersebut.

Dan ketika teringat tentang #kisah #sedih #di #hari #minggu, saya jadi tersenyum sendiri 😁

Bergantung pada jabatan

Ketika kita memutuskan untuk bergantung pada jabatan, maka pada saat itulah kesengsaraan dimulai,

yaitu ketika kita berharap bahwa setiap bulan akan mendapat take home pay yang besar, lalu mulai mengubah gaya hidup kita menjadi lebih konsumtif,

bahwa kita “memiliki” kendaraan tambahan yang bisa digunakan untuk segala keperluan (termasuk untuk ternak teri, atau di-Grab-in, dll), padahal itu sebenarnya adalah kendaraan yang disediakan untuk operasional kantor, bukan pribadi,

bahwa akan selalu ada perlakuan istimewa dari orang lain,

dll.

Masalahnya, jabatan adalah sementara. Terlebih di kalangan pegawai negeri. Dalam hitungan tiga bulan, jabatan bisa berganti atau hilang.

Dan apabila kita membawa keluarga untuk ikut bergantung pada jabatan, maka dampaknya akan catastrophic.

Jabatan, sejatinya adalah amanah. Amanah untuk membuat kehidupan semua orang menjadi lebih baik, yang diwujudkan dalam bentuk keputusan dan peraturan.

Ya, tugas pejabat adalah membuat keputusan dan peraturan.

Seharusnya tidak kurang dan tidak lebih dari itu.

IMHO.

Luruskan Niat, Sempurnakan ikhtiar

Ketika kita terapung sendirian di tengah lautan, ternyata modal “bisa berenang” saja tidak cukup. Ada ombak yang kuat dari kiri, kita akan terhempas ke kanan. Ada arus kuat dari bawah, kita akan tersedot ke bawah. Demikian pula jika ada angin dari depan, kita akan tertiup ke belakang. Akhirnya kita sendiri tidak tahu saat ini kita berada dimana.

Demikian juga hidup. Punya keahlian saja ternyata tidak cukup. Selalu ada ombak, angin, dan isapan arus di sekeliling kita, setiap hari… urusan-urusan yang membuat kita terhempas ke sana ke mari hingga kita bingung sekarang ada dimana dan harus berbuat apa.

Lantas, apa yang bisa membuat kita survive dan berhasil mencapai daratan? Niat yang lurus dan ikhtiar yang semakin sempurna. Itu jawaban yang saya peroleh dari khutbah Jumat minggu lalu.

“Saya ingin mencapai pulau yang ada di seberang sana.” Maka, meskipun ada ombak yang menghempaskan kita jauh ke belakang, kita akan segera reorientasi dan kembali berenang ke pulau tsb. Itulah niat yang lurus.

Namun, apabila sudah berenang sekian lama dan belum juga sampai di pulau tujuan, berarti kita harus memperbaiki cara berenang kita… entah teknik pernapasannya, kepakan tangan dan kaki, atau tahu kapan harus berhenti dan kapan berenang lagi. Continuous improvement, kata ahli manajemen. Itulah upaya untuk menyempurnakan ikhtiar.

Luruskan niat, Sempurnakan ikhtiar… sebatas itulah yang harus kita lakukan. Hasil akhirnya, serahkan kepada Sang Pencipta.

“Luruskan niat, Sempurnakan ikhtiar” juga bisa dipakai jika kita ingin jadi penjahat. Kalau memang Tuhan berkenan, suatu saat nama kita akan berkibar dan disegani orang.

Namun, sebaik2nya niat adalah ibadah. Sebaik2nya tujuan adalah ridho Allah SWT.

Btw, nanti siang mungkin saya sudah lupa kalau pernah menulis ini. Oleh karena itu, tolong ingatkan saya ya 🙂