Minggu lalu saya dapat surat undangan untuk menghadiri rapat yang membahas rencana pembuatan website suatu unit kerja. Membaca surat tersebut, langsung terbayang puluhan website sejenis yang dibangun sejak bertahun-tahun lalu namun jarang di-update. Kalaupun “up-to-date“, kebanyakan isinya adalah foto-foto acara seremonial di instansi tersebut.
Dari dulu sampai sekarang, masalah utama dalam pengelolaan website unit kerja pemerintah selalu sama: Content. Hal ini mungkin diawali oleh adanya anggapan bahwa “Website yang bagus adalah seperti detik.com”. Dan oleh karena itu, semua berlomba untuk membuat tampilan website berbasis berita seperti detik.com. Namun sayangnya, banyak unit kerja yang lupa bahwa kesehariannya bukanlah sebagai content producer seperti detik.com (yang memang merupakan media massa). Akibatnya, jarang sekali ada berita baru yang bisa di-upload, sehingga website tersebut lekas terasa usang.
Hal lain yang sering terlewat pada saat merancang website adalah “menentukan siapa targetnya”, apakah pegawai internal, masyarakat umum, sesama pegawai negeri di instansi lain, kalangan LSM, dll. Penentuan target ini akan berpengaruh kepada content yang nantinya akan disampaikan pada website. Jika targetnya adalah pegawai internal, rasanya sah-sah saja jika content yang di-upload adalah foto-foto acara seremonial di unit kerja tersebut. Namun bagi masyarakat umum, informasi tersebut rasanya tidak terlalu diperlukan.
Lantas, bagaimana website unit pemerintah yang baik?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu sejenak memerhatikan kondisi masyarakat pada saat ini. Pertama, social media sudah menjadi santapan pokok sehari-hari masyarakat. Perlu atau tidak perlu, kita selalu refleks me-refresh tampilan gawai untuk sekedar melihat informasi terbaru. Kalaupun tidak me-refresh, akan ada notifikasi yang selalu memicu kita untuk membuka gawai. Dengan demikian, sebagian besar informasi yang kita peroleh akan berasal dari social media, bukan dari website.
Kedua, akhir-akhir ini masyarakat cenderung menyukai judul berita yang catchy. Bahkan seringkali kita mendapati isi berita yang tidak sesuai dengan judulnya yang heboh. Namun, di tengah “tsunami informasi” saat ini, berita seperti itulah yang akan menonjol di antara berita-berita lainnya. Contoh judul yang catchy misalnya, “Terungkap! …. dst”, atau “Inilah Fakta Sebenarnya: …. dst”.
Ketiga, ketika memerlukan informasi tentang suatu hal, misalnya ketentuan mengenai cuti di kalangan PNS, kita cenderung membuka Google dibanding membuka Website Badan Kepegawaian Negara. Atau, ketika ingin membaca Peraturan Menteri Perindustrian nomor sekian, kita juga lebih suka mencari di Google daripada menelusuri di Website Kementerian Perindustrian. Kedengarannya memang aneh, tapi Google sudah menjadi pintu masuk ke website manapun. Ibaratnya, dulu, jika ingin masuk ke kamar teman, kita pasti masuk melalui pintu depan. Sekarang, tiba-tiba kita bisa berada di kamar tersebut tanpa lewat pintu depan.
Selain ketiga faktor kondisi masyarakat di atas, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara desain website dengan keseharian unit kerja tersebut. Maksudnya, jika unit kerja tersebut bukan merupakan content producer yang aktif (seperti Biro Humas), maka desain tampilannya jangan seperti detik.com, gunakanlah desain yang relatif pasif, misalnya blog.
Untuk unit kerja pelayanan teknis, seperti balai, sekolah, dll, bisa jadi yang paling sesuai adalah desain tampilan statis, yang penting masyarakat bisa mengetahui jenis layanan, tarif, contact person, dll. Hal ini terkonfirmasi oleh pengamatan yang dilakukan oleh seorang teman yang mengelola website unit pelayanan teknis bahwa yang sering dibuka oleh pengunjung adalah halaman tentang jenis layanan dan tarif.
Berbekal faktor di atas, kita bisa mulai merancang website yang baik untuk unit kerja pemerintah. Namun saya ingin mengawalinya dari belakang, yaitu kesesuaian antara desain website dengan keseharian unit kerja. Bagi unit kerja yang bukan merupakan content producer, ada baiknya menerapkan desain tampilan berupa blog sehingga website tersebut “tidak dituntut untuk selalu update.”
Blog ini sebenarnya cukup luar biasa. Kita selalu maklum bahwa kebanyakan blog tidak di-update setiap hari oleh penulisnya. Namun hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi minat pembaca untuk kembali mengunjungi blog tersebut, sekedar ingin tahu apakah ada artikel baru atau tidak.
Kembali ke website unit kerja pemerintah, akan lebih baik lagi jika website tersebut berisi artikel, bukan berita. Peristiwanya mungkin sama, namun kemasannya berbeda. Sebagai contoh, baru-baru ini Pusdatin menerima sertifikat ISO 9001. Jika dikemas sebagai berita, mungkin masyarakat akan bersikap “datar” karena sudah biasa. Namun jika dijadikan informasi dengan judul “Pusdatin Siap Layani Permintaan Data ‘1 Hari Jadi'”, respons masyarakat akan berbeda.
Contoh lain, Biro Umum rutin mengadakan sosialisasi tentang cara penyimpanan arsip. Ada baiknya informasi yang di-upload ke Website Biro Umum adalah artikel tentang langkah-langkah penyimpanan arsip yang baik dan benar, sebagaimana disampaikan pada sosialisasi dimaksud. Judul artikelnya mungkin “Inilah Cara Menyimpan Arsip yang Benar.”
Nah, jika artikel tersebut dirasa menarik, maka masyarakat akan mengklik tombol Share, entah ke Facebook, Twitter, dll. Tanpa terasa, informasi pada website tersebut akan menyebar dengan sendirinya di luar dugaan kita, dan lebih cepat sampai di masyarakat melalui soial media. Secara perlahan, website kita akan populer di Google (tentu dibarengi dengan penerapan SEO yang baik). Pada saat masyarakat mencari “cara menyimpan arsip”, bukan tidak mungkin website kita yang bertengger di urutan atas.
Sebagai penutup, saya pernah membaca kesimpulan hasil penelitian sebuah LSM internasional bahwa “Data yang dipublikasikan di website pemerintah adalah data yang ingin ditampilkan, bukan data yang perlu ditampilkan.”
Dengan berkaca pada kondisi sosial masyarakat saat ini, semoga kita bisa menciptakan website unit kerja pemerintah yang tidak hanya up-to-date tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat (serta “kalau tidak di-update pun tidak apa-apa”).
🙂